Dicko : Bromo fm Minggu 03/08/14. 08:00 WIB PERJALANAN hidup memang susah untuk diprediksi seperti apa lika-liku kedepannya untuk menja...
Dicko : Bromo fm
Minggu 03/08/14. 08:00 WIB
PERJALANAN hidup memang susah untuk diprediksi seperti apa lika-liku kedepannya untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Terbukti, saat Reporter Bromo fm berkunjung ke rumah salah seorang nenek di sebelah timur Candi Jabung, hidup sebatangkara dengan kondisinya yang sangat memperihatinkan. Bahkan, nenek berusia sekitar 100 tahun ini hanya ditemani beberapa ekor ayam peliaraannya dan beberapa kucing liar dirumahnya.
Minggu 03/08/14. 08:00 WIB
PERJALANAN hidup memang susah untuk diprediksi seperti apa lika-liku kedepannya untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Terbukti, saat Reporter Bromo fm berkunjung ke rumah salah seorang nenek di sebelah timur Candi Jabung, hidup sebatangkara dengan kondisinya yang sangat memperihatinkan. Bahkan, nenek berusia sekitar 100 tahun ini hanya ditemani beberapa ekor ayam peliaraannya dan beberapa kucing liar dirumahnya.
Beginilah kondisi nenek Sura’mi/Suparyo , Warga Dusun Candi, Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Hidup tanpa sanak saudara di sebuah gubuk yang nyaris ambruk yang ukurannya sekitar 3x5 meter. Tak hanya kondisi rumah yang memperihatinkan, isi di dalam rumah si nenek malang ini hanya terdapat barang bekas tanpa tempat tidur dan barang berharga lainya. Kondisi didalam gubuknya sangat berantakan, karena tidurpun harus kumpul dengan ayam dan kucing saja. Sementara rumah yang ia tempati, lahannya milik orang, yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh yang punya.
Lantaran hidup seorang diri bertahun tahun lamanya, Nenek Sura’mi menjalani hidup bersama peliaraannya. Tak hanya saat tidur, saat makan puluhan ekor ayam dan kucing tersebut terus menemani bagaikan keluarga. Saat media ini menemuinya, nenek Sura’mi tampak duduk seorang diri sambil makan lontong dari pemberian orang, itupun lontong yang dimakannya sisa semalem yang ia simpan.
Dengan logat madura ia mengatakan,” ghuleh de’er eberrik oreng nak (saya makan di kasih orang nak),” keluhnya dengan nada sedih. Dalam keseharriannya ia makan menunggu dari pemberian tetangga dan orang yang melintas di depan rumahnya, bahkan ia berusaha berpuasa ketika sudah tidak ada lagi untuk makan.
Nenek malang ini mengaku, dirinya tidak pernah tau orang tuanya sejak ia kecil. Karena sejak kecil dirinya sudah tinggal seorang diri. Dari pengakuannya, nenek Sura’mi ini pernah menikah dua kali semasa mudanya dulu. Selama ia menikah dua kali itu semua kandas ditinggal suaminya dan tidak dikaruniai anak.”Saya tidak pernah tau kedua suami saya itu masih ada, apa sudah meninggal, karena sejak meninggalkan saya tidak pernah peduli,” sebutnya dengan logat Madura.
Sementara itu, Hatijah (50) yang merupakan tetangga dekatnya mengatakan, dengan hidupnya nenek Sura’mi yang sudah terbiasa sendiri ini, sejak dulu ia terpaksa berjuang hidup seorang diri. Untuk makan sehari-hari nenek yang sudah berusia sekitar 100 tahun ini hanya dapat berharap dari belas kasih tetangganya. Namun, menurut Hatijah, nenek ini tidak pernah meminta apapun dari tetangga, meskipun ia kekurangan untuk makan. Bahkan nenek Sura’mi ini masih berusaha untuk memberi kepada tetangga kalau dirinya mempunyai kelebihan dari pemberian orang.
“Saya kasih dia lampu dirumahnya, dengan mengambil listrik dirumah saya, namun dia maksa untuk membayar uang listrik kepada saya, tapi buat apa saya mengambil uangnya, seharusnya saya yang wajib memberinya. Saya salut dengan nenek Sura’mi ini, karena sejak saya ada di Desa ini Selama 40 tahun, nenek ini memang bertekad untuk berjuang dengan hidupnya, tidak pernah mengeluh terhadap tetangga, bahkan ia berusaha untuk memberi,” kata Hatijah.
Hatijah menuturkan, air untuk diminum nenek Sura’mi dan mandi menimba di sumur, karena di Daerah itu memang agak sulit air.”Saya yang biasa menimbakan air di sumur setiap 3 hari sekali, itupun dia masih ingin membayar saya dengan uang sebesar 5 ribu rupiah. Setiap dia minta bantuan tetangga pasti dia mau memberi upah, tapi tidak mungkin tetangga sini mau menerima pemberiannya,” ujar Hatijah.
Sejak dulu puluhan tahun lamanya, nenek Sura’mi sabar dan tekun menjalani hidupnya. Bahkan, kondisinya dia sekarang seakan-akan tidak mampu lagi untuk berjalan. Kesebatangkaraannya memaksa dia hidup dengan ayam dan kucing peliaraannya. Sering kali dirinya menjual telur ayamnya untuk makan, itupun kalau ayamnya pas bertelur.
Bahkan terkadang dia, tidak makan lantaran tidak memiliki uang untuk membeli beras. Ironisnya kondisi nenek Sura’mi yang memprihatinkan sejak puluhan tahun lamanya, hanya mampu menikmati hidupnya dengan sendirinya tanpa ada perhatian dari orang lain.
Kini, nenek Sura’mi hanya bisa pasrah dengan kondisi hidupnya yang sangat memperihatinkan dan hanya ditemani beberapa ekor ayam dan kucing liar yang terkadang selalu ada saat dirinya sedang sendiri menjalani kesepian dan kesengsaraan.(Dc)



COMMENTS