Dicko : BromoFM Selasa 26/08/2014 , 10 : 00 WIB KRAKSAAN - Memasuki masa panen tembakau 2014, ditingkat petani harganya masih ...
Dicko : BromoFM
Selasa 26/08/2014 , 10 : 00 WIB
KRAKSAAN
- Memasuki masa panen tembakau 2014, ditingkat petani harganya masih
relativ normal, dengan kata lain masih dibawah harga pada tahun 2013
lalu.Meski tingkat areal tanam tahun ini melebihi rencana tanam
disbanding tahun lalu. Di Kabupaten Probolinggo, dari harga tingkat
petani untuk sementara ini berkisar Rp 20.00-Rp28.000. Hal ini
diungkapkan oleh Mudzakir selaku ketua Asosiasi Petani Tembakau
Indonesia (APTI) Kabupaten Probolinggo Selasa (26/8/14).
Menuurutnya, harga yang saat ini berjalan masih bersifat sementara, kedepan harganya diprediksi akan lebih meningkat dari awal musim panen ini. Sebab, masa panen sekarang ini masih belum menyeluruh,”masa panen sekarang masih dilakukan beberapa Desa saja dan beberapa Kecamatan saja,” ungkap Mudzakir.
Mudzakir mangaku, harga tingkat petani dengan kisaran Rp 20.000 ke atas itu sudah wajar, sebab, kalau dilohat dari kwalitas tembakau tahun ini kurang begitu bagus karena adanya cuaca dan hama penyakit sangat mempengaruhi terhadap tanaman tembakau. Kalau cuacanya tahun ini cukup bersahabat, hanya saja penyebabnya penyakit hama mulai menyerang. Bahkan, dari total realiasi tanam, sekitar 25 persennya, tanaman tembakau.
“Kalau menurut saya, harga ditingkat petani yang sekarang ini sudah bagus, karena di Kabupaten Probolinggo ini tembakau banayak yang rusak, dari kerusakan itu juga berpengaruh terhadap harga. Dan kerusakan itu, tidak berada di Kabupaten Probolinggo saja, akan tetapi juga menyerang di daerah lain,”sebutnya.
Sementara itu, data yang diperolaeh dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo menyebutkan, kondisi kerusakan tahun ini mencapai 25 persen. Diperkirakan realisasi tanam tembakau yang bisa produktivitas mencapai hanya sekitar 8.331 hektar. Sedangkan kebutuhan tembakau di seluruh gudang di Kabupaten Probolinggo, sekitar 12.929 Ton tembakau. Sehingga, diharapkan rendahnya realisasi tanam tembakau yang bisa produktivitas, dapat mengangkat harga tembakau.
“Kalau kami sebagai petani tembakau, tentunya dengan harga yang sekarang ini terbilang rendah, masalahnya setelah di kalkulasi dengan biaya dari awal masa tanam, untung-untungan biaya itu akan kembali,” ujar Sholeh salah satu petani tembakau asal Desa Centengan Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten setempat.
Mudzakir menambahkan, dirinya mempresdiksi harga tembakau akan naik, setelah memasuki pertengahan masa panen, yang utama adalah yang termasuk Daerah produktiv areal tanam tembakau di tujuh Kecamatan di Kabupaten Probolinggo.”Dan nominal kenaikan harga itu saya tidak berani memastikan nominalnya. Sebab, kalau masalah harga itu bisa jadi naik, bisa juga tetap, dan bisa juga akan mengalami penurunan,”ungkapnya (Dc)
Menuurutnya, harga yang saat ini berjalan masih bersifat sementara, kedepan harganya diprediksi akan lebih meningkat dari awal musim panen ini. Sebab, masa panen sekarang ini masih belum menyeluruh,”masa panen sekarang masih dilakukan beberapa Desa saja dan beberapa Kecamatan saja,” ungkap Mudzakir.
Mudzakir mangaku, harga tingkat petani dengan kisaran Rp 20.000 ke atas itu sudah wajar, sebab, kalau dilohat dari kwalitas tembakau tahun ini kurang begitu bagus karena adanya cuaca dan hama penyakit sangat mempengaruhi terhadap tanaman tembakau. Kalau cuacanya tahun ini cukup bersahabat, hanya saja penyebabnya penyakit hama mulai menyerang. Bahkan, dari total realiasi tanam, sekitar 25 persennya, tanaman tembakau.
“Kalau menurut saya, harga ditingkat petani yang sekarang ini sudah bagus, karena di Kabupaten Probolinggo ini tembakau banayak yang rusak, dari kerusakan itu juga berpengaruh terhadap harga. Dan kerusakan itu, tidak berada di Kabupaten Probolinggo saja, akan tetapi juga menyerang di daerah lain,”sebutnya.
Sementara itu, data yang diperolaeh dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo menyebutkan, kondisi kerusakan tahun ini mencapai 25 persen. Diperkirakan realisasi tanam tembakau yang bisa produktivitas mencapai hanya sekitar 8.331 hektar. Sedangkan kebutuhan tembakau di seluruh gudang di Kabupaten Probolinggo, sekitar 12.929 Ton tembakau. Sehingga, diharapkan rendahnya realisasi tanam tembakau yang bisa produktivitas, dapat mengangkat harga tembakau.
“Kalau kami sebagai petani tembakau, tentunya dengan harga yang sekarang ini terbilang rendah, masalahnya setelah di kalkulasi dengan biaya dari awal masa tanam, untung-untungan biaya itu akan kembali,” ujar Sholeh salah satu petani tembakau asal Desa Centengan Kecamatan Kotaanyar, Kabupaten setempat.
Mudzakir menambahkan, dirinya mempresdiksi harga tembakau akan naik, setelah memasuki pertengahan masa panen, yang utama adalah yang termasuk Daerah produktiv areal tanam tembakau di tujuh Kecamatan di Kabupaten Probolinggo.”Dan nominal kenaikan harga itu saya tidak berani memastikan nominalnya. Sebab, kalau masalah harga itu bisa jadi naik, bisa juga tetap, dan bisa juga akan mengalami penurunan,”ungkapnya (Dc)



COMMENTS