Dicko : Bromo FM Minggu 20/07/14 , 09 : 00 WIB Juma’ati seorang perempuan yang mempunyai semangat luar biasa. Penampilannya cu...
Dicko : Bromo FM
Minggu 20/07/14 , 09 : 00 WIB
Juma’ati
seorang perempuan yang mempunyai semangat luar biasa. Penampilannya
cukup sederhana dan murah senyum, sehingga mempengaruhi dirinya untuk
terus belajar meraih prestasi sebagai seorang guru. Keinginannya dirinya
menjadi seorang guru sejak dirinya duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah
((MI) di Daerahnya Desa Gunggungan Lor, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten
Probolinggo.
Perempuan yang memang di sapa Juma’ati ini sudah menjadi guru selama 7 tahun dari 2007 silam sampai sekarang 2014. “Alhamdulillah saya bersyukur sekali, apa yang menjadi impian saya sejak kecil sudah terwujud untuk menjadi seorang guru, meski berstatus sebagai suka relawan (Sukwan) di sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nahdatul Ulama (MINU) di kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo saya sangat bangga, karena saya sudah bisa menyalurkan ilmu saya kepada yang berhak menerimanya,”ucap perempuan yang sudah dikaruniai satu orang anak ini.
Menurut gadis kelahiran Probolinggo 1986 ini, dari dasar berkeinginan menjadi seorang guru, dirinya mempunyai kegemaran membaca yang dilakukan sejak kecil. Sehari - hari ia tak lepas dari buku. Bahkan sampai ia menjadi mahasiswi Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Universitas Terbuka (UT) Malang ini selalu akrab dengan buku karena buku adalah jendela untuk melihat dunia. "Saya jalani semua itu dengan kesabaran untuk mewujudkan cita-cita," ujar perempuan berkulit sawo matang ini Sabtu (19/7/14).
Sejak mulai diterapkannya kurikulum 2013 ini dirinya ditempat mengajarnya mulai menjadi wali kelas 1 yang sebelumnya menjadi wali kelas II di MINU Kraksaan. Selama 7 tahun ini ia menjadi guru TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) ditempat ia mengajar, yang sebelumnya dirinya mendalami ilmu Al-Qur’an di yayasan Bina Sholehah di kota Kraksaan, pada saat itu juga ia sambil menjalani kuliah di UT, menurutnya semua yang ia jalani waktu itu penuh liku dan hambatan.
”Berjalan 1 tahun di yayasan Bina Sholehah dari 2006-2007 saya diminta untuk membantu mengajar di sekolah MINU Kraksaan ini, yaitu sebagai guru TPQ untuk kelas II, Alhamdulillah sampai sekarang saya masih terus bertekat untuk mewarisi ilmu yang saya miliki terhadap anak didik saya,” sebut perempuan mungil yang hobby membaca ini.
Bahkan sampai saat ini ia tidak puas diri untuk menggali potensi diri sebagai guru Al-Qur’an, dirinya masih mempunyai inisiatif untuk melanjutkan kuliahnya ke S-2. Meniurutnya, tidak akan pernah habisnya untuk mengerjar ilmu dan wawasan, kerana itu untuk diri sendiri dan untuk masa depan.(Dc)
Perempuan yang memang di sapa Juma’ati ini sudah menjadi guru selama 7 tahun dari 2007 silam sampai sekarang 2014. “Alhamdulillah saya bersyukur sekali, apa yang menjadi impian saya sejak kecil sudah terwujud untuk menjadi seorang guru, meski berstatus sebagai suka relawan (Sukwan) di sekolah Madrasah Ibtidaiyah Nahdatul Ulama (MINU) di kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo saya sangat bangga, karena saya sudah bisa menyalurkan ilmu saya kepada yang berhak menerimanya,”ucap perempuan yang sudah dikaruniai satu orang anak ini.
Menurut gadis kelahiran Probolinggo 1986 ini, dari dasar berkeinginan menjadi seorang guru, dirinya mempunyai kegemaran membaca yang dilakukan sejak kecil. Sehari - hari ia tak lepas dari buku. Bahkan sampai ia menjadi mahasiswi Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Universitas Terbuka (UT) Malang ini selalu akrab dengan buku karena buku adalah jendela untuk melihat dunia. "Saya jalani semua itu dengan kesabaran untuk mewujudkan cita-cita," ujar perempuan berkulit sawo matang ini Sabtu (19/7/14).
Sejak mulai diterapkannya kurikulum 2013 ini dirinya ditempat mengajarnya mulai menjadi wali kelas 1 yang sebelumnya menjadi wali kelas II di MINU Kraksaan. Selama 7 tahun ini ia menjadi guru TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) ditempat ia mengajar, yang sebelumnya dirinya mendalami ilmu Al-Qur’an di yayasan Bina Sholehah di kota Kraksaan, pada saat itu juga ia sambil menjalani kuliah di UT, menurutnya semua yang ia jalani waktu itu penuh liku dan hambatan.
”Berjalan 1 tahun di yayasan Bina Sholehah dari 2006-2007 saya diminta untuk membantu mengajar di sekolah MINU Kraksaan ini, yaitu sebagai guru TPQ untuk kelas II, Alhamdulillah sampai sekarang saya masih terus bertekat untuk mewarisi ilmu yang saya miliki terhadap anak didik saya,” sebut perempuan mungil yang hobby membaca ini.
Bahkan sampai saat ini ia tidak puas diri untuk menggali potensi diri sebagai guru Al-Qur’an, dirinya masih mempunyai inisiatif untuk melanjutkan kuliahnya ke S-2. Meniurutnya, tidak akan pernah habisnya untuk mengerjar ilmu dan wawasan, kerana itu untuk diri sendiri dan untuk masa depan.(Dc)



COMMENTS