Dicko Bromo FM Selasa 17/06/14 , 11:00 WIB KREJENGAN - Mengalami cacat tubuh bukan berarti tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan seb...
Dicko Bromo FM
Selasa 17/06/14 , 11:00 WIB
Besar kemungkinan penilaian di antara kita masih ada yang mengidentikkan tunanetra dengan profesi tukang pijat. Namun bagi seorang Ustadz bernama Muhammad Mahfud (45) warga Dusun Toguran Desa Dawuhan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo sangat beribawah.
Pasalnya, selain dirinya seorang Ustadz yang mempunyai 60 santri laki-laki dan perempuan sekaligus dengan pesantrennya yang dinamakanMifbahul Huda ini mampu menunjukan keahliannya dengan merakit sebuah pemancar radio yang radiusnya mampu mencapai sekitar 5km, bahkan dirinya mampu membuat radio ukuran besar yang dipampang diteras rumahnya.
Seorang Ustadz yang sudah hafal Al-Qur’an 30 Jus ini mengatakan, kalau dirinya hanya menempuh pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Desanya dan itupun tidak sampai selesai. Namun apa yang menjadi keinginan di pikirannya selalu terwujud, salah satunya membuat radio.
“Semasa kekcil saya memang suka mendengar siaran radio, bahkan saya berkeinginan ingin merancang radio sendiri, saya belajar secara otodidak,’katanya saat didatangi media ini kerumahnya.
Ia mengaku, sejak dirinya berusia 15 tahun, meskipun tidak bias melihat ia sudah suka merusak dan membongkar radionya sendiri sebagai pembelajaran,”Alhamdulillah sampai sekarang ini saya mampu membuat pemancar radio dan merakit radio raksasa ini,”ucapnya
Radio raksasa yang ia buat itu dilakukan hanya dengan waktu yang singkat yaitu 3 minggu. Radio yang ia buat sudah berjalan dua bulan yaitu dari bulan April 2014 kemarin hingga sekarang memasuki bulan Juni.
Ditanya berapa yang dana yang dihabiskan untuk pembuatan radio tersebut. Ustadz Mahfud yang tinggal bersama dengan sang istri dan adik kandungnya itu mengaku, radio raksasa yang dibuatnya menghabiskan uang 1 juta rupiah, itupun komponennya banyak dibantu dengan barang bekas seperti kayu, tutup parfum dan lainnya.
“Cara merakitnya saya dibantu adik kandung saya, dengan cara meraba dan petunjuk itu yang saya kerjakan, sedangkan bagian untuk menyoder itu bagian adik saya, in put/out put itu petunjuk dari saya,” kata Ustadz Mahfud yang masih belum dikarunia anak ini.(Dc)
Selasa 17/06/14 , 11:00 WIB
KREJENGAN - Mengalami cacat
tubuh bukan berarti tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan sebaliknya
mereka kreatifitasnya melebihi seseorang yang normal, apa yang terpikir
jika mendengar kata tunanetra ?
Besar kemungkinan penilaian di antara kita masih ada yang mengidentikkan tunanetra dengan profesi tukang pijat. Namun bagi seorang Ustadz bernama Muhammad Mahfud (45) warga Dusun Toguran Desa Dawuhan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo sangat beribawah.
Pasalnya, selain dirinya seorang Ustadz yang mempunyai 60 santri laki-laki dan perempuan sekaligus dengan pesantrennya yang dinamakanMifbahul Huda ini mampu menunjukan keahliannya dengan merakit sebuah pemancar radio yang radiusnya mampu mencapai sekitar 5km, bahkan dirinya mampu membuat radio ukuran besar yang dipampang diteras rumahnya.
Seorang Ustadz yang sudah hafal Al-Qur’an 30 Jus ini mengatakan, kalau dirinya hanya menempuh pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Desanya dan itupun tidak sampai selesai. Namun apa yang menjadi keinginan di pikirannya selalu terwujud, salah satunya membuat radio.
“Semasa kekcil saya memang suka mendengar siaran radio, bahkan saya berkeinginan ingin merancang radio sendiri, saya belajar secara otodidak,’katanya saat didatangi media ini kerumahnya.
Ia mengaku, sejak dirinya berusia 15 tahun, meskipun tidak bias melihat ia sudah suka merusak dan membongkar radionya sendiri sebagai pembelajaran,”Alhamdulillah sampai sekarang ini saya mampu membuat pemancar radio dan merakit radio raksasa ini,”ucapnya
Radio raksasa yang ia buat itu dilakukan hanya dengan waktu yang singkat yaitu 3 minggu. Radio yang ia buat sudah berjalan dua bulan yaitu dari bulan April 2014 kemarin hingga sekarang memasuki bulan Juni.
Ditanya berapa yang dana yang dihabiskan untuk pembuatan radio tersebut. Ustadz Mahfud yang tinggal bersama dengan sang istri dan adik kandungnya itu mengaku, radio raksasa yang dibuatnya menghabiskan uang 1 juta rupiah, itupun komponennya banyak dibantu dengan barang bekas seperti kayu, tutup parfum dan lainnya.
“Cara merakitnya saya dibantu adik kandung saya, dengan cara meraba dan petunjuk itu yang saya kerjakan, sedangkan bagian untuk menyoder itu bagian adik saya, in put/out put itu petunjuk dari saya,” kata Ustadz Mahfud yang masih belum dikarunia anak ini.(Dc)



COMMENTS