Dicko : Bromo fm Jum'at 06/06/14. 08:00 WIB Kraksaan – Para petani garam terpal yang tergabung kelompok Sidoagung Kecamatan Kraksaa...
Dicko : Bromo fm
Jum'at 06/06/14. 08:00 WIB
Kraksaan – Para petani garam terpal yang tergabung kelompok Sidoagung Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo mulai merasa merugi, sebab jadwal panen pada Mei 2014 ini harga pasaran garam terpal di wilayah Kabupaten Probolinggo maupun diluar Kabupaten harganya mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Jum'at 06/06/14. 08:00 WIB
Kraksaan – Para petani garam terpal yang tergabung kelompok Sidoagung Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo mulai merasa merugi, sebab jadwal panen pada Mei 2014 ini harga pasaran garam terpal di wilayah Kabupaten Probolinggo maupun diluar Kabupaten harganya mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Terjadinya penurunan harga disebabkan karena memang adanya selisih harga yang terjadi setiap tahunnya, Rp 25 Ribu/ton. Namun pada musim panen yang dilakukan bulan Mei 2014 ini penurunan harganya bahkan melebihi dari angka penurunan dari Rp 25 tersebut, ini diungkapkan Bambang Taufiq selaku koordinator kelompok garam terpal Sidoagung Kraksaan.
Disebutkan, harga garam terpal itu sendiri dipasaran biasanya Rp 500 ribu/ton, sekarang menjadi Rp 475 ribu/ton, namun dari harga tersebut oleh pemasok dipasaran dijual dari haraga Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu/ton, dan itu tidak hanya terjadi di Kabupaten Probolinggo saja, melainkan juga terjadi di Daerah lain dimana garam terpal hasil produksi Sidoagung di eksport yakni ke Muncar, Bondowoso, dan Jember.
“Harganya sekarang ini anjlok, untuk mencari solusinya, kelompok kami sebanyak 13 orang ini harus menimbun garam dengan jenis krosok dari hasil produksi masa panen sekarang ini, jenisnya sama dengan garam terpal,” kata Bambang Jum’at (6/6/14).
Selain itu, untuk menutupi kerugian akibat anjloknya harga, lanjut Bambang, para petani garam Sidoagung telah mendapat pinjaman perorangan dari koperasi berupa terpal untuk memproduksi garam krosok yang rata-rata harganya berkisar Rp 375 ribu/ton dan itu yang harus ditimbun.
Menurut Bambang, meskipun produksi garam terpal terus mengalami penurunan, namun secara optimis kelompok garam Sidoagung tetap mengembangkan produksinya secara maksimal, sebab, garam terpal tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan indek pembangunan manusia (IPM) di Kabupaten Probolinggo, sebab garam terpal tak lain adalah garam beryodium.
“Ini mesti harus tetap dikembangkan, karena masyarakat Kabupaten Probolinggo dianjurkan untuk memakai garam beryodium. Harga anjlok, kami tetap terus memproduksi, dan terus mencari solusinya demi kepentingan seluruh lapisan amasyarakat,” tutur Bambang. (Dc)


COMMENTS