Dicko : Bromo fm Jum'at 16/05/14. 09:00 WIB Paiton - Peristiwa seorang penari Rejang Dewa kesurupan, itu terjadi saat 150 wrga...
Dicko : Bromo fm
Jum'at 16/05/14. 09:00 WIB
Jum'at 16/05/14. 09:00 WIB
Paiton - Peristiwa seorang penari Rejang Dewa kesurupan, itu terjadi saat 150 wrga Bali melakukan Ritual Karya Tawur Agung, Ngenteng Linggih, Mamungkah dan Padudusan Agung, di Candi Jabung, Desa Jabung Candi, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Kamis (15/5/14), kejadian tersebut semapat menambah kemagisan jalannya Ritual.
"Dari 10 penari, yang kesurupan dua orang. Tetapi ini kan jenis tarian sakral, sehingga menambah nilai kemagisan upacara Tawur Agung Pedanan," diungkapkan Imangku Alit Ngurah Arta ketua panitia tari tersebut.
Usai kesurupan, kedua penari itu langsung dibopong ketempat dimana empat Pendeta pemimpin upacara saat melakukan mediumisasi untuk ritual yang dilakukan, satu orang Pendeta upacara keagamaan itu kemudian melakukan ritual yang disebutnya percikan tirta (air) suci dan berhasil menyadarkannya.
Sesuai dengan "pepalihan dresta" atau tradisi yang dipercayai serta diyakini warga setempat, kata Imangku Alit Ngurah Arta, kalau pada tarian sakral Rejang Dewa ada yang kesurupan, maka upacara dinilai positif.
Hal itu menunjukkan upacara yang diselenggarakan oleh ratusan warga Bali tersebut mendapat anugerah keselamatan dari para leluhur yang beristana di Candi Jabung itu. "Keyakinan seperti itu sudah menjadi kelaziman secara turun-temurun dalam agama kami," ucapnya.
Dijelaskan, selain Rejang Dewa, tarian sakral lainnya yang juga dipentaskan adalah Gambuh, Wayang Lemah, Baris Gede, dan Topeng juga dipentaskan. "Pementasan tarian sakral sebagai wujud persembahan kepada Tuhan dan leluhur," ujarnya.
Serangkaian upacara keagamaan tersebut diselenggarakan sejak persiapan pada Selasa-Rabu (13-14) dan puncak karya dijadwalkan pada Kamis (15/5/14).
“Dengan kejadian ini, menurut orang Jawa adalah kesurupan, adalah suatu keistimewan bagi kami dalam pelaksanaan ritual karya agung ini, ini adalah pertanda baik bagi kami, berarti Tuhan dan leluhur di Candi Jabung ini telah merestui dan turut menyaksikan upacara ini,” jelas Imangku Alit Ngurah Arta.(Dc)



COMMENTS