BROMO FM : Rabu 25/09/13 Pukul 09.00 Wib Reporter : Dicko Kraksaan - Membuka usaha dengan memberdayakan warga sekitar dimulai dengan usah...
BROMO FM : Rabu 25/09/13 Pukul 09.00 Wib
Reporter : Dicko
Kraksaan - Membuka usaha dengan memberdayakan warga sekitar dimulai dengan usaha kecil-kecilan dilakukan Muhammad (40), asal Desa Brumbungan Lor, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Saat ini, ia sudah memiliki 20 karyawan tidak tetap. Setiap hari, per karyawan menghasilkan enam hingga sembilan rantang dengan ukuran yang bervariasi. Ini dikatakan Muhammad, Rabu (25/9).
Reporter : Dicko
Kraksaan - Membuka usaha dengan memberdayakan warga sekitar dimulai dengan usaha kecil-kecilan dilakukan Muhammad (40), asal Desa Brumbungan Lor, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Saat ini, ia sudah memiliki 20 karyawan tidak tetap. Setiap hari, per karyawan menghasilkan enam hingga sembilan rantang dengan ukuran yang bervariasi. Ini dikatakan Muhammad, Rabu (25/9).
Menurut Rahmat, awal usaha membuka rantang ikan asin disebabkan bahan bambu yang melimpah di tempat tinggalnya. Sedangkan produksi ikan asin disejumlah tempat cukup besar.
“Saya memproduksi sendiri rantang dengan istri sebelum akhirnya mempekerjakan karyawan disekitar rumah,” paparnya.
Sebelum membuka usaha ini, warga kebanyakan menjadi buruh tani. Pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan setiap hari. Sebab pemilik lahan hanya menggunakan tenaga buruh bila musim tanam dan panen. Selebihnya menganggur.
“Saya memproduksi sendiri rantang dengan istri sebelum akhirnya mempekerjakan karyawan disekitar rumah,” paparnya.
Sebelum membuka usaha ini, warga kebanyakan menjadi buruh tani. Pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan setiap hari. Sebab pemilik lahan hanya menggunakan tenaga buruh bila musim tanam dan panen. Selebihnya menganggur.
Dengan permintaan rantang ikan yang makin tinggi, warga disekitar rumah tidak lagi menganggur. Pekerja bisa menafkahi kebutuhan hidup mereka dengan membuat rantang ikan.
Agar usaha yang dijalankan terus berkembang, Muhammad mengambil laba pada pekerja hanya Rp 40 rupiah hingga seribu rupiah. Sedangkan untuk bahan pembuatan rantang, pihaknya yang menyediakan. “Kami tidak mengambil laba banyak, sebab tujuan awal usaha yang dilakukan agar warga disekitar rumah bisa bekerja,” terangnya.
Agar usaha yang dijalankan terus berkembang, Muhammad mengambil laba pada pekerja hanya Rp 40 rupiah hingga seribu rupiah. Sedangkan untuk bahan pembuatan rantang, pihaknya yang menyediakan. “Kami tidak mengambil laba banyak, sebab tujuan awal usaha yang dilakukan agar warga disekitar rumah bisa bekerja,” terangnya.
Untuk pemasaran, Muhammad mengaku saat ini dirinya tidak menemui kendala. Bahkan permintaan kuota terus bertambah. “Per tiga hari, kami selalu memasok hasil rantang ke pengepul,” paparnya.
Usaha pembuatan rantang asin berjalan sekitar lima tahun, tepatnya pada 2009. Seiring berjalannya waktu, bahan baku bambu yang sebelumnya melimpah mulai berkurang. Akibatnya ia banyak mencari bahan ke luar desa dan kecamatan. “Untunglah bahan bambu di Probolinggo masih melimpah Mas,” terangnya.
Untuk harga rantang ukuran kecil sekitar 40 cm x 30 cm , Muhammad membayar pekerjanya Rp 1500. Sedangkan untuk ukuran sedang, sekitar 80 cm x 70 cm Rp 3000. Dan untuk ukuran rantang 1 meter x 60 cm, Muhammad membayar pada karyawannya Rp 7500.
Pekerja rantang ikan asin, Sulastri, warga setempat mengaku perekonomian rumah tangganya ikut terbantu dengan keberadaan usaha rantang ikan asin. Dengan penambahan ekonomi yang dihasilkan, ia tidak lagi dipusingkan dengan terbatasnya penghasilan suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan. “Alhamdulillah, keberadaan usaha rantang membantu perekonomian keluarga saya Mas,” pungkasnya .(Dc)


COMMENTS