BromoFm , Penangkapan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq karena dugaan suap impor dagin...
BromoFm ,
Penangkapan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishaaq karena dugaan suap impor daging sapi memunculkan gempa politik menjelang pemilu 2014.
Publik tak menduga, petinggi partai ini bakal kesandung masalah korupsi. Betapa tidak, PKS selama ini dikenal sebagai partai yang menggembar-gemborkan citra bersih, profesional, dan peduli. Partai ini juga partai terbesar berbasis ideologi Islam, jika mengacu pada perolehan suara selama pemilu 2004 dan 2009.
PKS disebut-sebut oleh banyak media sebagai 'rising star' di tengah-tengah dominasi partai-partai lama maupun partai 'baru tapi lama'. Pemilu 1999, saat masih bernama Partai Keadilan, mereka gagal meraih suara cukup besar untuk membuat sejarah di parlemen. Pemilu 2004, setelah berubah nama, PKS menyabet 8.325.020 suara. Alhasil, PKS mendapat jatah 45 kursi dari total 550 kursi di DPR.
Tahun 2009, di saat perolehan suara partai berbasis Islam turun, PKS masih stabil. Mereka meraup 8.206.955 suara. Di DPR RI, PKS mendapat 57 kursi. PKS menjadi partai nomor empat terbesar di parlemen, meninggalkan tiga partai berbasis massa Islam: Partai Amanat Nasional yang secara tradisional terkait dengan Muhammadiyah, Partai Kebangkitan Bangsa yang terikat dengan Nahdlatul Ulama, dan Partai Persatuan Pembangunan yang merupakan representasi partai Islam masa Orde Baru.
Menghadapi pemilu 2014, saat sejumlah partai menghadapi masalah, PKS justru berjalan lempang. Partai ini terhitung solid, sehingga berani menargetkan tiga besar peraup suara terbanyak. Kendati masih berideologi Islam dan diidentikkan dengan Wahabi atau kaum fundamentalis literalis, partai ini lebih membuka diri terhadap kelompok masyarakat lain. Rekrutmen calon legislator tak lagi hanya berasal dari kader ideologis, tapi juga dari kalangan luar. Dengan kata lain, partai ini lebih pragmatis dan itu berdampak positif pada pemilu 2009 silam.
Namun penangkapan Luthfi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi bisa mengguncang semua harapan PKS menjelang pemilu 2014. Kepercayaan publik terhadap partai itu terancam anjlok. Lebih jauh lagi, apa yang dialami PKS bisa menjadi penanda berakhirnya era partai berideologi Islam, mengingat partai ini adalah benteng terakhir Islam politik di parlemen.
Bagi kelompok pemilih muslim yang ideologis, PKS menjadi harapan, setelah sejumlah partai berideologi Islam tumbang tak mampu bertarung dalam tiga kali pemilu. PKS dipandang lebih 'genuine' dan memiliki kelebihan sebagai partai dakwah, karena berakar dari gerakan dakwah tarbiyah di kampus-kampus.
Sejak awal, PKS mencanangkan diri berbeda dengan partai-partai lainnya. PKS menggunakan isu-isu antikorupsi dan pemerintahan yang bersih dan berwibawa untuk membetot minat pemilih. Dan, sejauh ini, mereka cukup berhasil, karena tak banyak kabar berita yang menyebutkan politisi PKS tersangkut kasus dugaan korupsi.
Tahun 1999, saat masih bernama PK, partai ini lebih homogen terdiri atas kader-kader gerakan dakwah, yang tak berpengalaman dalam urusan politik praktis. Saya pernah mendapat cerita dari salah satu kader PKS, bagaimana mereka kursus atau belajar bersama tentang politik praktis dan politik di parlemen. Salah satunya soal penyiasatan bagaimana kader menghindari taktik politik kotor.
Organisasi dengan nuansa homogen dan eksklusif memang lebih mudah dikendalikan. Namun PK pada akhirnya gagal meraup banyak suara. Justru saat PK Sejahtera membuka diri, kantong suara mereka pada pemilu 2004 dan 2009 menggelembung. Dukungan berdatangan. Apalagi, mereka tak lagi ngotot menggunakan kosakata berbau Islam (yang membuat sebagian kalangan alergi), dan memilih jargon-jargon umum namun dengan tetap bernapaskan relijius.
Saat PKS mulai membuka diri terhadap anasir non-ideologis, kekhawatiran pertama yang dimunculkan sejumlah kalangan adalah ketidakmampuan partai memanajemen heterogenitas. Para politisi non-ideologis bisa menjadi titik lemah partai itu. Para politisi ini bergabung 'sebagai pendulang suara', dan datang dari berbagai kalangan. Pemahaman mereka tentang visi dan misi partai kurang mengakar dibandingkan kader ideologis.
Sejak lama ada sinyalemen, bahwa politisi PKS terbelah dalam dua faksi: 'Faksi Keadilan' yang masih memegang teguh ideologi awal partai dan 'Faksi Sejahtera' yang lebih pragmatis dalam berpolitik. Sejumlah petinggi PKS menampik adanya faksionalisasi itu. Namun dengan ditangkapnya Luthfi, semua disadarkan, bahwa titik lemah partai bisa berada di mana saja. Luthfi memang belum tentu bersalah. Namun berdasarkan pengalaman sebelumnya, KPK juga jarang keliru. Lembaga ini bergerak sangat hati-hati dan baru beraksi ketika yakin betul dengan bukti yang dimiliki.
Pemilu semakin dekat. Tahun depan, PKS menghadapi batu ujian sesungguhnya: akankah pemilih meninggalkan partai ini. Jika, benar perolehan suara PKS anjlok, maka ini menjadi kisah sedih bagi 'politik Islam'. Selama ini, ada semangat, bahwa ideologi Islam bisa menjadi alternatif dalam perpolitikan nasional yang cenderung sekuleris dan liberal. Namun jargon tanpa teladan hanya akan menyisakan ruang hampa. Apalagi jika kemudian sang pemberi teladan justru terjerat kasus hukum. [wir]
sumber: berita jatim


COMMENTS